Diberdayakan oleh Blogger.
Indexs Berita

Obyek Wisata Wilayah Sanur dan Inovasi Untuk Pengembangannya (2)

Jumat, 20 Oktober 2017


MUSEUM LE MAYEUR
Museum Le Mayeur ini terletak di tepi pantai Sanur, berupa bangunan dengan arsitektur Bali yang menampung kurang lebih 88 buah lukisan yang dibagi menjadi lima jenis koleksi berdasarkan media yang dipakai, yaitu Bagor (22 lukisan), Hard Boeard (25 lukisan), Trilek (6 lukisan), kertas (7 lukisan) dan Kanvas (28 lukisan). 

Sejarah singkat museum Le Mayeur
Nama museum ini di ambil dari nama bekas pemiliknya “Adrien Jean Le Mayeur de Mepres”. Seorang pelukis berasal dari Bruxelles, Belgia, datang ke Bali pada tahun 1932 melalui pelabuhan Buleleng Singaraja, dan selanjutnya menuju Denpasar. Di Denpasar Le Mayeur menyewa sebuah rumah di Banjar Kelandis dan bertemu dengan seorang penari legong keraton berumur 15 tahun bernama Ni Nyoman Pollok, yang kemudian dijadikan model lukisannya. Lukisan-lukisannya dengan model Ni Nyoman Pollok di pamerkan di Singapura dengan hasil yang sangat memuaskan dan nama Le Mayeur menjadi semakin di kenal. Selesai pameran Le Mayeur kembali datang ke Bali dan membeli sebidang tanah dan mendirikan rumah di pantai Sanur lokasi museum sekarang. Setelah 3 tahun menjadi model tepatnya tahun 1935 Le Mayeur dan Ni Pollok sepakat untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan yang dilangsungkan dengan upacara adat Bali.

Pada tahun 1956 ketika Bapak Bahder Djohan selaku menteri pendidikan, pengajar dan kebudayaan datang mengunjungi rumah Le Mayeur sangat terkesan dan minta kepada Le Mayeur agar rumahnya dijadikan museum. Kemudian pada tanggal 28 Agustus 1957 impiannya itu menjadi kenyataan, melalui akta hadiah No. 37, dari Le Mayeur kepada Ni Pollok dan pada saat yang sama juga diterbitkan akta persembahan (Sehenking) No. 38 yang isinya menyerahkan bergerak lainnya dari Ni Pollok kepada Pemerintah Republik Indonesia, untuk dijadikan museum. Tahun 1958 Le Mayeur menderita sakit kanker telinga dan wafat pada bulan Mei 1958 pada usia 78 tahun. Ni Pollok pun mengurus rumahnya sendiri yang telah menjadi museum sampai meninggal dunia pada tanggal 28 Juli 1985 pada usia 68 tahun. Museum ini merupakan aset pariwisata yang dimiliki Desa Sanur Kaja.

POTENSI DESA SANUR KAJA YANG HARUS DIKEMBANGKAN.
Selain museum Le Mayeur, Sanur Kaja juga memiliki aset wisata seperti Pantai Matahari Terbit tetapi di pantai ini masih kurang wisatawan yang berkunjung dan masih banyak lahan kosong yang perlu dikembangkan, seperti di Pantai Mertasari, lahan kosong disana digunakan sebagai tempat rekreasi baru yang diberi nama “Dream Island”, jadi para wisatawan lebih mengenal Pantai Mertasari dibandingkan dengan Pantai Matahari terbit.

Saya sebagai calon Teruni Sanur Kaja 2017 ingin mengembangkan potensi wisata yang ada di sanur kaja, seperti lahan kosong  yang ada di Pantai Matahari Terbit bisa dijadikan tempat wisata baru, seperti taman yang ada food centre nya, tempat bermain anak, tempat melangsungkan event-event tertentu ada panggung tetapnya, bisa juga isi jogging track seperti di Kertalangu di Renon agar pengunjung bisa berolahraga dan di kelola semaksimal mungkin agar menambah minat pengunjung untuk berwisata. Ada juga lahan kosong lainnya di Lapangan Made Pica, itu bisa dibuat seperti Gor atau Gedung khusus olah raga Desa Sanur Kaja.


*) Artikel ini di unggah untuk memotivasi generasi muda Sanur Kaja untuk ikut berpikir dan berinovasi untuk membangun Desa Sanur Kaja menjadi lebih baik.

    Rekomendasi

0 komentar:

Komentar Anda akan ditampilkan setelah menunggu persetujuan, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. Redaksi berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.